Ukh... susah sekali untuk membuka mulutku. Bagaimana tidak, Bu kepala sekolah sudah melontarkan kata-katanya yang *jlep* banget dihati. Omelannya sungguh luar binasa. "Kasusmu terlalu banyak. sebaiknya jika seperti ini terus kau tak usah naik kelas. Ibu juga bingung kenapa kamu bisa naik ke smp. Seandainya ibu kepala sekolah sd, ibu tidak akan mengijinkan kamu masuk ke smp. Bikin guru jadi umur pendek saja. Naik darah tiap hari karena liat kamu. Setiap hari ibu jadi males masuk sekolah karena ibu gamau liat kamu. Waktu dikantin liat mukamu aja udah bikin ga nafsu makan. Ibu sudah nasehatin kamu berkali-kali tapi tetap aja dilakuiin hal yang salah. Bahkan tindakanmu melebihi dari siswa yang dulu paling terkenal karena kenakalannya. Itupun siswanya laki-laki, sedangkan kau perempuan. Seharusnya sebagai perempuan kamu harus kalem, rambut rapi,feminin. Ini malah, setiap pulang sekolah manjat dinding halaman sekolah. Rambut sudah kayak bulu kucing yg ga pernah dirawat 5 tahun. Sabar ibu punya murid kayak kamu." dan blablablablabla lagi. Sungguh membosankan mendengar omelan ini, kata-katanya nusuk banget lagi. Untung aku orang yg super sabar. Kalo bisa udah aku bales tuh kata-katanya.
Akhirnya setelah beberapa menit omelan itu udah berhenti dan diakhiri dengan "iya bu, ampun bu. Aku ga ulangin lagi nanti" hebat sekali jika ada guru yang percaya dengan kata-kataku ini. Kata-kata andalanku... hahahaha. Waduh, satu masalah selesai satu masalah datang lagi. Aku lupa dengan keberadaan Eva yang sedari tadi berdiri disampingku. Pasti Eva akan mengadu nya kepada bu kepala sekolah. Bahayaaaaaa!!! Daripada diomelin lagi sama bu kepsek, mending aku minta maaf saja. Walau susah sekali, tapi setidaknya hanya Eva yang mendengarnya jika aku mengecilkan volume suaraku ini. Dan julukanku akan tetap ada. .
"Eva, sorry ya. Soalnya kemaren aku marahin kamu dicafe. Tentang buku itu lho. Tapi waktu pulang ternyata bukunya ada dikamarku, hehehe jangan marah ya. Kemaren aku cuma sumpek karena mati lampu." Kataku dan alasanku untuk menutupi malu, aku membisikannya dengan cepat dan dengan muka yang meragukan. Sepertinya Eva mendengarnya walau suaraku agak kecil. Aku yakin Eva tidak jadi melaporkannya dan akan melangkah keluar dari ruang guru. Tetapi keyakinanku salah--" justru sebaliknya. Eva dengan segera menuju ke meja bu kepsek. Tapi ternyata Eva juga terlambat dan dipanggil juga sama bu kepsek-____-".
Semenjak kejadian itu Eva tidak pernah meminjam bukuku lagi. Mungkin itu karena kata-kataku di cafe waktu itu. Aku sangat menyesal, karena kata-kataku sudah pasti menyakiti hati Eva. Aku termasuk orang yang tak memikirkan matang-matang sebelum melontarkan kata-kata. Saat di perjalanan pulang sekolah dengan entengnya aku bertanya kepada Eva "va, koq kamu udah jarang pinjem bukuku? Biasanya kan kamu sering pinjem bukuku. Udah 1 minggu kamu ga ada pinjem bukuku? Bukuku nganggur terus nih. Ga enak liatnya numpuk dirumah" dengan senyumnya yang mencurigakan itu Eva menjawabku "soalnya aku takut buku sang ratu jadi rusak. Apalagi hilang, kan kalo ilang aku bisa dimarahi sama sang ratu itu. Hehehe becanda. Sebenarnya selama ini aku pinjem bukumu karena keuangan ortu ku makin lama makin menipis. Jadi aku gamau nambah beban ortu ku cuma untuk beli buku. Tapi belakangan ini, papaku udah ga kerja lagi diperusahaannya yg dulu. Papaku udah pindah kerjaan jadi penerjemah untuk perusahaan tambang batu bara dan papaku buka toko buku kecil-kecilan didepan rumah. Jadi aku kalo mau baca tinggal baca buku disitu. Hehehe bukan karena soal di cafe itu koq. Sorry ya karena selama ini aku ngerepotin karena pinjem bukumu terus." Kata Eva dengan senyum yang menurutku masih mencurigakan itu.
"Ohhh begitu yah. Hahaha ngga koq ngga ngerepotin. Udah ya aku mau jajan makanan di toko kue sebelah rumahku. Duluan yahh babaiii" kataku ditambah senyum jadi-jadian ku. Beres sudah satu masalah. Tapi entah kenapa aku tiba-tiba memikirkan masa depanku. Mungkin betul juga kata-kata guru. Aku harus berubah, kalo aku berubah mulai sekarang. Mungkin masa depanku akan menjadi lebih menyenangkan dibanding dengan masa depanku jika sikapku ini ga dirubah. Besar nanti aku harus berhasil supaya nanti anak-anak aku bisa hidup enak. Mungkin masa depan ga semudah keliatannya tapi jalani aja lah. Jangan terlalu berlebihan karena masa depan adalah sesuatu yang sangat misterius karena kita ga mungkin bisa liat masa depan kita kan? Kalo masa lalu sih masih bisa.
Pulangnya, aku membereskan sepatuku dan langsung pergi mandi lalu makan. Tidak seperti biasanya, aku langsung mengerjakan pr. Apalagi ini pr mtk tapi entah kenapa ada suatu semangat yang terus berkobar didalam diriku. Aku berjanji, aku akan berubah!!!!!
________2 jam kemudian_______
"APAAN NI PR?! SUSAH BANGET!! SAPA SIH PENCIPTA MTK??!! EMG MINTA DIMAKAN TU ORANG!!" NGAPAIN KERJAIIN PR! MENDING MAEN PS!" Akhirnya aku main ps dari jam 6 sampe jam 1 subuh. Langsung bobo dan besoknya bangunnya telat lalu terlambat masuk sekolah dan dihukum guru keliling lapangan 12 kali karena ga kerjaiin pr. Pulangnya lempar sepatu, piring habis makan ga dicuci. Ga mandi langsung meluncur ke depan komputer sambil buka game online. Maen sampe jam 10 malem dan lupa kerjaiin pr. Besoknya demam karena stress, dan kecapekan jadi gamasuk sekolah. Terbebas dari sekolah pikirku tetapi Bu Kepsek malah datang kerumahku dan memberitahu tentang kasusku yang sudah keterlaluan disekolah kepada ibuku. Aku dimarahi lagi dan semua game ku disita. Betapa sialnya nasibku-____-"
~~~~Baiklah. Sepertinya sampai sini saja cerpen BUKUKU :) terima kasih buat para pembaca yang sudah membaca BUKUKU dari episode.1 sampai 5 ini.~~~~

